Karya Tari Kontemporer ;#Rantau404
Oleh: Yosi Nofa (Mahasiswa Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni Pascasarjana ISI Padang Panjang)
Karya tari kontemporer berjudul "#Rantau404" yang dikoreografi oleh Erwin Mardiansyah, yang ditampilkan pada Festival Mentari#5 dengan tema “Turun Dari Dilangit” pada tanggal 15 November 2025 malam, di Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam ISI Padangpanjng, telah membuktikan bahwa seni tari Sumatera Barat memiliki keberanian besar dalam merespons isu-isu modern. Dengan sinopsis yang berangkat dari kegelisahan tentang pergeseran makna rantau dari perjalanan fisik Minangkabau menjadi "perjalanan" di ruang digital, karya ini menawarkan ide yang luar biasa dan inovatif. Namun, di tengah gemerlapnya ide, pementasan ini menyisakan beberapa pertanyaan kritis mengenai eksekusi, fokus, dan integritas visual sang koreografer.
Apresiasi awal, kejeniusan Koreografi dan keterbacaan pesan
Secara koreografi, "#Rantau404" patut diacungi jempol. Erwin Mardiansyah berhasil melahirkan gerak-gerak yang inovatif dan terstruktur rapi, membuat pesan yang kompleks menjadi sangat mudah dibaca oleh audiens. Bagian awal karya adalah puncak keberhasilan ini. Penonton langsung diajak merasakan suasana Bandara atau Terminal yang padat: para penari bergerak membawa koper, kardus, dan tas, menggambarkan kesibukan orang merantau. Ada yang santai, ada yang tergesa-gesa takut ketinggalan pesawat, bahkan terjadi dorong-dorongan yang menciptakan suasana kurang disiplin. Suasana ini sangat terbangun kuat; audiens dapat merasakan stres, kegembiraan, dan dinamika sosial dari sebuah perjalanan fisik yang sesungguhnya. Struktur garapan dalam komposisi tari kontemporer terlihat rapi, menunjukkan penguasaan teknis yang matang dalam membangun narasi awal.
Fokus terpecah, ketika panggung dikalahkan latar digital
Transisi karya ke ranah digital, yang seharusnya menjadi inti dari tema "Rantau 404", mulai menimbulkan masalah fokus. Bagian ini menghadirkan live di TikTok sebagai background, ada adegan berjualan, dan ada aktivitas hobi yang menuruti permintaan follower. Sayangnya, pada bagian ini, fokus audiens terasa terpecah dan terganggu. Penonton harus memilih antara menikmati gerak para penari di panggung yang sesungguhnya atau mencermati layar digital di belakang. Namun, memperkuat narasi bahwa tubuh menjadi fragmen visual dan identitas menjadi data, kehadiran live TikTok yang terlalu dominan justru membuat panggung terkesan agak monoton. Muncul pertanyaan penulis, apakah medium digital yang dipilih sebagai latar sudah berhasil diintegrasikan, atau malah menjadi pesaing yang mengganggu konsentrasi penonton terhadap inti tarian dan gerak tubuh penari itu sendiri? Koreografer tampaknya terjebak dalam dilema antara menampilkan realitas digital secara literal di layar, atau mentransformasikannya ke dalam bahasa tubuh yang artistik.
Simbolisme tubuh tanpa busana dan ending yang menggantung
Bagian yang paling menarik dan inovatif adalah ketika para penari berjalan menuju audiens, bahkan mengajak penonton untuk merespons atau melakukan gerakan singkat. Ini adalah momen interaktif yang luar biasa, memecah dinding panggung dan menciptakan koneksi yang relevan dengan tema koneksi tanpa batas. Namun, di momen inovatif ini, muncul kejanggalan visual yang serius. Koreografer Erwin Mardiansyah, yang ikut serta sebagai penari di bagian ini, tampil tanpa mengenakan kostum atau baju atas. Hal ini sontak menimbulkan pertanyaan mendasar, apa hubungannya tubuh tanpa baju dengan tema #Rantau404 (hilangnya pijakan kemanusiaan di ruang digital)? Apakah ini adalah simbolisasi dari penelanjangan identitas dan kerentanan di ruang online? Atau sekadar pilihan visual yang kontroversial? Dalam konteks tari kontemporer, simbolisme harus kuat. Jika ini adalah simbol, sayangnya pesan tersebut belum terbaca jelas, dan malah berpotensi mengganggu integritas panggung secara keseluruhan.
Kebingungan audiens berlanjut hingga bagian penutup karya. Ending karya menampilkan suasana lampu live TikTok yang ditinggalkan begitu saja dalam keadaan berantakan. Jika rantau digital dimaknai sebagai "kehilangan arah" dan "koneksi tanpa batas," ending yang ambigu ini membingungkan audiens. Apakah ending ini berarti koreografer menawarkan solusi dengan meninggalkan ruang digital? Atau justru menekankan keputusasaan? Pesan yang ingin disampaikan melalui ending ini terasa menggantung, gagal memberikan resolusi atau penegasan akhir yang kuat terhadap premis yang sudah dibangun dengan sangat baik di awal.
Secara keseluruhan, "#Rantau404" adalah karya yang berani dan penting dalam diskursus seni kontemporer. Namun, tantangan terbesarnya adalah mengintegrasikan narasi digital ke dalam bahasa tubuh tanpa terdistraksi oleh literalitas layar, serta memastikan setiap pilihan visual yang diambil (termasuk kostum) memiliki bobot simbolik yang kuat dan jelas bagi audiens.
Pendukung Karya: • Komposer: Indra Arifin • Dramaturg : Fabio Yuda • Penari : - Erwin Mardiansyah - Ocha Eri Meilia Putri - Putri Monika - Sania Lopela Sandres - Dendi Chairi - Devira Maharani Putri • Penata Cahaya : Oky Herliawan • Visualizer: Taufik Mulia Siregar.