Bagurau Lamak: Strategi Hibrida Saluang Dendang Menembus Kafe Gen Z Dan Memanggil Perantau
Oleh: Yosi Nofa
(Mahasiswa Program Studi Pengkajian Seni Pascasarjana ISI Padang Panjang)
(Payakumbuh, Sumatera Barat), Seni tradisi Saluang Dendang Minangkabau kini memasuki fase adaptasi paling berani melalui program inovatif "Bagurau Lamak." Program yang digagas oleh Bapak Dr. Rustim, MA (Dosen ISI Padang Panjang), bersama Komunitas Pelaku Seni Tradisi Payakumbuh ini memilih medan tempur yang tak terduga, di “Uda Expresso Coffee dan Resto”. Pertunjukan perdana yang digelar Jumat malam, 21 November 2025 bukan hanya sekadar pentas, melainkan uji coba sosiologis tentang bagaimana tradisi bertahan di tengah dominasi technoscapes modern.
Strategi utama "Bagurau Lamak" adalah menciptakan format pertunjukan hibrida, menggabungkan kehadiran fisik di kafe dengan siaran live streaming simultan di berbagai platform media sosial (TikTok, IG, YouTube). Seniman berusaha menjembatani jurang generasi dengan menampilkan saluang darek sebagai inti otentik, diiringi Keyboard/Orgen Tunggal untuk memberikan irama yang lebih akrab di telinga Generasi Z. Para pendendang (Ibu Ernawati, Rina Oktavia, Sri Isdayanti) membawakan dua kategori lagu: Bagurau Klasik yang sarat Ratok Taram, dan Lagu Bagurau/Satangah Tiang yang lebih populer. Dr. Rustim percaya, adaptasi ini adalah implementasi dari prinsip restored behavior (Schechner, 2020), di mana bentuk seni harus merekonfigurasi diri demi mempertahankan relevansi kultural.
Hasil kajian observasi menunjukkan adanya "konflik kontekstual" yang signifikan di kafe. mayoritas pengunjung generasi Z, seperti Doni (29) dan kelompok Fazil, mengungkapkan resistensi penerimaan, merasa heran, atau bahkan terganggu, karena menganggap saluang dendang "tidak relevan" dengan suasana santai di kafe. Fenomena ini menunjukkan adanya cultural erosion (Giddens, 2013) yang nyata, di mana preferensi anak muda telah bergeser sepenuhnya. Sebaliknya, program ini menjadi oase bagi generasi tua. Bapak Muzammil (Malin Kayo, 67 tahun), tokoh adat yang datang jauh-jauh dari Pauh Sangik, menunjukkan antusiasme tinggi. Kehadiran beliau memvalidasi fungsi “Bagurau Lamak” sebagai media pelestarian ingatan kultural yang kuat, membuktikan bahwa tradisi masih memiliki fungsi afektif yang mendalam bagi mereka yang merindukan budaya kampung (Dissanayake, 1988).
Meskipun inovasi estetiknya kuat, “Bagurau Lamak” menghadapi kegagalan kritis pada aspek interaksi komunal. Evaluasi teknis menunjukkan bahwa peralatan live streaming (kamera dan laptop) yang diletakkan di depan panggung menciptakan hambatan visual yang memutus komunikasi antara pemain dan penonton luring. Akibatnya, tradisi badoncek, pemberian apresiasi uang sebagai bentuk interaksi dan permintaan lagu, gagal terbangun secara optimal. Kegagalan ini menunjukkan bahwa modifikasi lokasi, tidak disertai dengan edukasi yang memadai, mengenai mekanisme interaksi bagi audiens kafe, sebuah kegagalan dalam membangun pemahaman estetik dan etika pertunjukan di ruang baru (Feldman, 2017).
Di tengah tantangan luring, “Bagurau Lamak “ mencatat kemenangan telak di dunia maya. Transmisi digital mencatat engagement signifikan dari audiens perantau Minang. Live streaming ini berfungsi sebagai medium transmisi budaya yang efektif, memenuhi kebutuhan perantau untuk melepaskan rasa kerinduan (ratok taram secara virtual) (Haryanto, 2022). Namun, potensi keberhasilan ini belum maksimal karena publikasi acara dinilai kurang masif sebelum pelaksanaan, menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk meningkatkan strategi promosi digital.