Jelang SAF 2019 Monev dan monitoring bersama dirjen kebudayaan


06 Juli 2019 14:28:19 WIB

Kegiatan SAF 2019, merupakan kegiatan ke dua dari tiga kali kegiatan Indonesiana yang dirancang oleh direktorat kebudayaan sebagai penguatan seni dan kebudayaan Nusantara. Tepatnya memelihara dan menumbuhkan keberagaman dalam seni sebagai kekayaan bangsa yang hidup.

SAF dalam diskusi yang berkembang, dilaksanakan selama dua hari yang diselenggarakan oleh BPNB. Kegiatan yang bertempat di lantai IV dinas kebudayaan itu berlangsung hangat, dua hal yang mencuat, pertama soal tata kelola, kedua kajian silat sebagai objek pemajuan budaya dari perspektif agama.
Narasumber yang berkaitan dengan monev, disampaikan olah bapak Yudi dari Dirjen Kebudayaan, lebih menekankan pada pelaksanaan kegiatan dengan maksimal, dengan merujuk pada azas aturan main yang sudah di sepakati. 
Selanjutnya, dalam diskusi tersebut beliau juga menyebutkan,  Taman Budaya dan Musieum harus perperan aktif dalam penyelenggaraan kegiatan semacam ini. Ada dua alasan yang menjadi alasan dari pernyataan itu, pertama dari sisi historis, kedua lembaga itu merupakan anak dari Direktorat Kebudayaan yang kemudian terpisah sejak masa era otonomi daerah diberlakukan. Alasan kedua, lembaga tersebut adalah lembaga yang sangat dekat dengan pelaku seni dan memahami peta kesenian di Indonesia, dan secara teknis, kedua lembaga ini adalah UPT yang sangat memahami hal -hal tekhnis penyelenggaraan berbagai iven seni.
Dari sisi tata kelola, persoalan yang masih menjadi masalah adalah sistem penerapan dan penggunaan anggaran. Dilema ini mencuat mengingat Dinas Kebudayaan sebagai Penguasa Anggaran harus dapat mengambil kebijakan yang proporsional, karena even ini akan dihadapkan pada pelaku seni dan juga para panitia yang sudah ditunjuk seperti kurator dan tim produksi saat eksekusi kegiatan. 
"Dari sisi silat sebagai konten, yang menarik yaitu ada beberapa hal yang paradoks dalam konteks keislaman", kata buya Apria dalam paparannya. 
Semisal, ritual potong ayam, dan asok kumayan. Jika dilihat dari sisi keislaman, dalam pandangan sebagian ulama, merupakan hal yang bertolak belakang dengan ajaran Islam. Namun demikian, tugas kita dalam hal ini sudah tentu kita mesti mencari hal yang baik dalam soal ini, diantaranya beliau menyatakan "bahwa lahir silat memcari kawan dan batinnya silat mencari Tuhan."
Sedangkan Edi Utama, sebagai kurator memaparkan bahwa, pelaksanaan SAF harus menyentuh sampai ke akar rumput di tingkat Nagari. 
Merujuk pada berbagai iven di berbagai Nagari merupakan hal yang potensial dan ini harus dirangkul agar pertumbuhan seni dan kesinambunan indonesiana kedepan menjadi terarah.
Namun, dari semua persoalan yang mencuat, masalah tata kelola menjadi hal yang penting, "platform Indonesiana ke depan harus mandiri, independen tak bergantung lagi pada anggaran pemerintah," seperti yang di sampaikan oleh saudara Undri dari BPNB sebagai penutup diskusi ini.

Ditulis Oleh:

Syuhendri, M.Sn

Pamong Budaya Sumatera Barat