Diskusi Sejarah Pers Nasional di Minangkabau


14 November 2017 10:42:55 WIB

Dalam rangka menelusuri kembali kehebatan  tokoh asal Minang dari masa ke masa dibidang pers, Museum Adityawarman mengadakan kegiatan “Diskusi Sejarah Pers Nasional dari Minangkabau”. Kegiatan ini dilaksanakan di aula Museum Adityawarman pada Senin (6/11). 
Wartawan asal Minangkabau dari masa kolonial sampai masa reformasi memiliki ciri khas tersendiri. Selain sebagai Wartawan mereka juga sebagai pendidik, ulama dan politikus. Hal ini dapat dilihat dengan munculnya berbagai tokoh pers pada kurun waktu tersebut.
Tokoh pers Hasril Chaniago pada kegiatan diskusi mengatakan bahwa, profesi sebagai wartawan profesional dan penerbitan pers dijadikan sebagai pekerjaan utama pada masa Orde Baru hingga Masa Reformasi. Hal ini ditandai dengan munculnya media televisi, disamping media cetak dan media radio.
“Keberadaan generasi perintis pers Minang (1900-1930) seperti Abdul Rivai, Abdul Muis, Agus Salim, Landjumin Dt. Tumanggung, Mahyudin Dt. Sutan Maharaja, Rohana Kudus dan lainnya” merupakan bukti keberadaan tokoh Pers asal Minang ujarnya.
Pada masa perjuangan kemerdekaan hingga zaman Jepang (1930-1945), tokoh pers yang lahir adalah Buya Hamka, Djamaluddin Adinegoro, Zainal Abidin Ahmad, Abdul Majid Usman, dan lain-lain. Periode (1945-1965) tercatat beberapa tokoh pers Minang antara lain, Anas Makruf, Rusli Amran, Rosihan Anwar, Kasoema, Ani Idrus, H M Samawi, Gadis Rasid dan lainnya. “Begitu pula pada zaman orde baru hingga reformasi banyak tokoh Minang yang berkiprah,” ujarnya.
Kepala Museum Adityawarman Adi Saputra mengatakan tujuan kegiatan ini untuk mendiskusikan sejarah pers di Minangkabau dan perkembangannya dari penjajahan Belanda hingga masa reformasi. Kegiatan ini juga dalam rangka menyambut hari pers nasinal tahun 2018. Akan ada 3000 wartawan yang datang ke Padang pada kegitan itu.
“Pada HPN nanti, Dinas Kebudayaan Sumbar melalui UPTD Museum Adityawarman akan menggelar pameran “Tokoh Pers Minang” yang terkenal pada zaman dulunya dan juga memamamerkan peralatan yang dipakai untuk menulis berita,” tutupnya.